Selamat Datang di Aku Perawat Dot Com

Minggu, 17 Februari 2013

Pengaruh Pemberian Daun Kamboja Terhadap Penyembuhan Luka Bakar

Oleh : Chandra I.G. Febrian 1, Sentot Imami2, Lingga K Wardani2


Latar Belakang : Luka Bakar merupakan jenis kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi dan radiasi yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan kulit luar (Epidermis) maupun dalam (Dermis). Banyak cara yang digunakan untuk menyembuhkan luka bakar salah satunya metode tradisional seperti penggunaan tanaman kamboja (plumeria acuminate)
Tujuan Penelitian: Membuktikan adanya pengaruh pemberian daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap penyembuhan luka bakar.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini menggunakan true experimental design. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Universitas Brawijaya Malang selama 10 hari. Subyek penelitian adalah tikus putih betina (rattus novergicus strain wistar) sebanyak 20 ekor tikus putih betina yang dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan observasi dengan perlakuan ekstrak daun kamboja pada luka dengan dosis yang sama. Data dianalisis menggunakan Uji Paramentrik Annova
Hasil: Kelompok A, 2 sampel mendekati sembuh, Kelompok B, 2 sampel sembuh dan 2 sampel mendekati sembuh, Kelompok C, 4 Sampel yang sembuh, sedangkan kelompok kontrol hanya 1 sample yang mendekati sembuh
Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap penyembuhan luka bakar.


Kata Kunci: Luka Bakar, Daun Kamboja, Tikus Putih.



PENDAHULUAN

Luka bakar merupakan jenis kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, dan radiasi, yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan kulit  luar (epidermis), dan (dermis). Akibat yang ditimbulkan luka bakar dapat menjadi lebih serius, Hal ini bisa menyebabkan kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan). Dan mudah terjadi infeksi. ( Moenajad, 2001 ).
Ada tiga fase dari luka bakar yaitu: luka bakar derajat 1, yang terjadi bila kulit terpapar suhu panas pada daerah epidermis ( luas ), luka derajat 2, jika kerusakan kulit meliputi epidermis dan sebagian dermis dan ditandai dengan adanya reaksi inflamasi disertai proes eksudasi. Derajat 3, bila kerusakan kulit sudah mengenai daerah dermis dsan lebih dalam. (Brunner & Suddarth. 2001).
Penyembuhan luka bakar terkait dengan kembalinya fungsi sel dan organ tubuh kembali pulih, dengan sirkulasi darah merah yang normal dan asupan vitamin yang cukup, dan yang terpenting menjaga keadaan luka tetap bersih dan tidak terinfeksi, yang ditunjukkan dengan tanda dan respon yang berurutan dimana sel jaringan kulit secara bersama - sama, melakukan tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan. Perawatan luka saat ini berkembang cepat, dengan metode metode yang berbeda, jika tenaga kesehatan dan pasiennya memanfaatkan terapi yang sesuai dengan kebutuhan, semua tujuan perawatan luka adalah untuk membuat luka stabil dengan perkembangan jaringan yang baik dan suplai darah yang adekuat. (Tarigan. 2007).
Akhir akhir ini telah kita jumpai dan kita lakukan pada pengobatan luka bakar yang sudah menjadi tradisi turun temurun dari orang tua, dan mungkin hal ini sudah ada sejak zaman dahulu, yaitu dengan menggunakan metode tradisional atau non medis. Sebenarnya penyembuhan luka yang secara benar sudah kita ketahui secara medis dengan penggunaan obat dan tarapi medis lainnya. Pengobatan non medis sangat banyak kita jumpai dikehidupan kita dengan salah satunya menggunakan tanaman kamboja (Plumeria acuminate) yang diyakini dapat menyembuhkan luka bakar, biasanya tanaman ini yang dapat digunakan untuk menyembuhkan luka bakar yaitu dengan menggunakan daun kamboja (Plumeria acuminate), yang di tumbuk dan dioleskan pada luka tersebut. Dalam tanaman kamboja (Plumeria acuminate) dipercaya memiliki kandungan senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Akar dan daun kamboja (Plumeria acuminate),  mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool. Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol. yang bisa menyembuhkan luka bakar. (Arief Hariana. 2008).
Berdasarkan fenomena pengalaman dari masyarakat Desa Kapong Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan Madura mengenai tanaman kamboja (Plumeria acuminate), yang dipercaya masyarakat dan diyakini sebagai tanaman yang mempunyai bermacam macam kegunaannya juga sebagai obat yang dapat penyembuhkan luka bakar. Bahkan dari beberapa mayarakat Desa Kapong Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan Madura yang memanfaatkan Daun Kamboja (Plumeria acuminate) sebagai obat luka. Maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul ” Pengaruh Pemberian Daun Kamboja (Plumeria acuminate) Terhadap Penyembuhan Luka Bakar  Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus strain Wistar)”. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan obyek tikus putih (Rattus norvegicus strain Wistar) karena didalam kandungan tanaman kamboja (Plumeria acuminate) terdapat zat pahit beracun. Sehingga peneliti tidak mau mengambil resiko


Metode
Penelitian ini menggunakan true experimental design, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan kepada beberapa kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi Universitas Brawijaya Malang selama 10 hari. Subyek penelitian adalah tikus putih betina (rattus novergicus strain wistar) sebanyak 20 ekor tikus putih betina yang dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol (menggunakan NaCl) dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan observasi dengan perlakuan ekstrak daun kamboja pada luka dengan dosis yang sama. 
Kriteria Inklusi pada Penelitian ini adalah:
-  Berat Badan tikus antara 200 - 250 gram
-  Umur tikus 3 bulan
-  Kondisi tikus dalam keadaan sehat
-  Tikus dengn luka bakar derajat 1

HASIL

Dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pada kelompok perlakuan didapatkan hasil yang berbeda beda, dengan perlakuan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), proses perlakuan yaitu dengan luka bakar dibersihkan terlebih dahulu dengan kasa steril, kemudian diberikan ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), pada perlakuan ini tiap luka diberi dosis 2 g untuk 1x perlakuan, kemudian luka ditutup dengan 1 kasa steril dan kemudian di plester. Kelompok A, dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 1 x sehari. Pada hari ke 10 nampak ada 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 3 sampel tikus yang tidak sembuh, tetapi kulitnya tidak kembali secara anatomis, hal ini dikarenakan luka bakar membutuhkan keteraturan perawatan dan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate). Kelompok B, dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 2x sehari. Pada hari  ke 10 nampak ada 2 sampel tikus yang sembuh, dan ada 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, tetapi ada 1 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomis. Sedangkan pada kelompok C dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 3 x sehari. Pada hari  ke 10 nampak ada 4 sampel tikus yang sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak smbuh, dan 3 sampel tikus kulitnya kembali secara anatomis dan 2 sampel tikus kulitnya tidak kembali secara anatomis.
Khasiat kamboja secara medis belum dibuktikan, tetapi secara empirik sudah banyak digunakan sebagai bahan obat. Seluruh bagian tanaman kamboja, seperti kulit batang, batang, daun, akar, dan bunganya memiliki khasiat obat.

Sehingga ada keselarasan antara teori dan fakta bahwa didalam kandungan daun kamboja dapat digunakan untuk menyembuhkan luka bakar derajat 1 (area epidermis).
Pada kelompok kontrol, menunjukkan bahwa pada hari pertama sampai hari ke 10, dari ke 5 sampel pada kelompok kontrol hanya 1 sampel tikus yang mendekati sembuh dan kulit tidak kembali secara anatomis, dan ada 4 sampel tikus yang tidak sembuh. Sampel pada kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), tetapi kelompok kontrol mendapatkan perawatan luka pada pagi hari menggunakan NaCL 0,9%, dan setelah dilakukan perawatan luka, kemudian juga di perban dengan menggunakan 1 kasa steril, dan di plaster, nampak 1 sampel yang mendekati sembuh, hal ini dikarenakan kurangnya keteraturan perawatan luka bakar pada kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil observasi pada kelompok kontrol didapatkan hasil pada proses pnyembuhan luka bakar mulai dari hari 1 sampai hari ke 3, ke 5 sampel masuk pada indikator kulit kemerahan, eksudat tampak kering, luka tidak bau, jaringan nekrotik, hari ke 4 sampai hari ke 8, ke 5 sampel masuk pada indikator eksudat tampak kering, luka tidak bau, jaringan nekrotik, tepi luka kering, hari ke 9, ke 5 sampel masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, dan hari ke 10, sampel tikus 1 masuk pada indikator kulit kemerahan, eksudat tampak kering, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 2 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 3 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 4 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering sampel tikus 5 masuk pada indikator luka tidak bau, tepi luka kering, Lama proses penyembuhan luka bakar ini juga dipengaruhi oleh faktor pola tikus yang sering menggigit balutan kasa sehingga ada sebagian sampel yang terlepas balutannya hal ini mengakibatkan luka menjadi mudah terinfeksi. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi luka yang lembab sehingga proses penyembuhan luka menjadi lama. Pemberian NaCL pada luka kurang efektif, dikarenakan NaCL hanya dapat membersihkan luka dari kuman agar tidak terinfeksi. Sedangkan fungsi khusus di bidang kesehatan terutama karena adanya garam nacl adalah menurunkan gejala inflamasi (peradangan), serta menyembuhkan infeksi.
Dari 4 kelompok diatas luka tidak sembuh 100% dikarenakan, kasa pada luka sering terlepas sehingga bakteri atau kuman cepat masuk, kelakuan tikus yang sering menggigiti bagian tubuhnya yang terdapat luka dan luka bakar drajat 1 tidak bisa sembuh sempurna melainkan akan sembuh dengan jaringan kemerahan bila tersinggung akan berdarah.
Hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap proses penyembuhan luka bakar menyebabkan perbedaan penyembuhan luka, tampak perbedaan pada setiap kelompok menunjukkan hasil yang berbeda penyembuhan luka bakar secara signifikan maupun secara deskriptif tampak bahwa penyembuhan luka pada kelompok perlakuan C, lebih banyak sampel yang telah sembuh hampir sembuh 100%, dari pada kelompok perlakuan A, B, maupun kelompok kontrol, pada hari ke 10. Hal yang membedakan dari kedua kelompok kontrol dan kelompok perlakuan adalah faktor pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), yang dalam dugaan bisa menyembuhkan luka bakar, dan ternyata hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) bisa menyembuhkan luka bakar.
Dengan kesimpulan penyembuhan luka bakar tidak cukup hanya dengan menggunakan daun kamboja (plumeria acuminate) saja. Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi tubuh, gizi seimbang, usia muda lebih cepat sembuh dari pada usia tua, sterilitas luka bakar, pemilihan daun kamboja (plumeria acuminate) yang bagus, proses sterilitas pembuatan ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate).

KESIMPULAN

Proses penyembuhan luka bakar pada  perlakuan kelompok A nampak 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan 3 sampel tikus tidak sembuh. Pada perlakuan kelompok B nampak 2 sampel tikus yang sembuh, dan 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomi. Pada peralakuan kelompok C, nampak 4 sampel tikus yang sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, dan ada 3 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomi.
Proses penyembuhan luka bakar pada  kelompok kontrol dari ke 5 sampel nampak 1 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 4 sampel tikus yang tidak sembuh tetapi ke 5 sampel tikus kulitnya tidak kembali secara anatomi.
Didapatkan hasil  p=0,019 (p valueα=0,05 ) berarti  Ho ditolak dan minimal ada pengaruh yang signifikan pemberian daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap proses penyembuhan luka bakar pada tikus putih selama 10 hari.

Reactions:

0 comments: